19
Oct
08

Aksara Ka-ga-nga di Sumatra Selatan

Oleh Ahmad Bastari Suan
Penulis adalah Pencinta  Sejarah dan Kebudayaan (Pesake)


AKSARA Ka-Ga-Nga atau Surat Ulu yang berkembang di Sumatra Selatan adalah bagian dari kekayaan budaya bangsa yang perlu dilestarikan. Di antara bentuk upaya itu adalah dengan memperkenalkannya kepada generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Langkah pertama ke arah itu adalah dengan diadakannya semacam lokakarya atau seminar mengenai Surat Ulu atau Aksara Ka-Ga-Nga Sumatra Selatan.

Diharapkan dari lokakarya atau seminar itu akan terlahir satu kesepakatan atau konsensus bahwa Sumatra Selatan, sebagai daerah kebudayaan, memiliki satu kesatuan aksara atau tulisan asli daerah, satu aksara persatuan, yaitu aksara Ka-ga-nga Sumatra Selatan yang dinamakan Surat Ulu.

Diharapkan pula, aksara Ka-ga-nga ini dapat dilestarikan, menjadikannya mata-pelajaran (muatan lokal) di sekolah-sekolah, menuliskannya pada papan-papan nama jalan, gerbang, batas dusun, batas marga, batas kecamatan, batas kabupaten/kota, nama gedung/bangunan, kain rentang atau spanduk, dan sebagainya. Tentu saja, bersama-sama dengan tulisan aksara Latin yang sudah umum.

Surat Ulu
Penyebutan Surat Ulu untuk aksara Ka-Ga-Nga di Sumatra Selatan tidak diketahui sejak kapan dan oleh siapa, tapi pengertian Surat Ulu untuk menyebutkan naskah kuno yang ditulis menggunakan aksara Ka-Ga-Nga yang banyak ditemukan di daerah pedalaman Sumatra Selatan.

Tepatnya, Surat Ulu merupakan tulisan kuno yang urutan nama lambang-lambangnya adalah ka, ga, nga, dan seterusnya Lambang-lambang bunyi pada Surat Ulu melambangkan suku-kata seperti pada aksara Jepang (Hiragana dan Ikebana).

Hanya pengucapan nama lambang-lambang itu berbeda pada bunyi fonem vokal bahasa tertentu. Misalnya kE-gE, ngE (bahasa Besemah, termasuk Semende, Inim, Lematang, Rambang, Lubay, dan Ugan/Ogan); ke-ge-nge (bahasa Kayuagung, Musi, Pegagan, Saling, dan Lembak); ko-go-ngo (bahasa Lintang dan Seraway), ka, ga, nga (bahasa Daya, Komering, dan Ranau).

Karena urutan lambang-lambangnya dimulai dari ka, ga, dan nga, maka aksara ini disebut juga aksara Ka-ga-nga. Ada pula yang menyebutnya aksara Rencong. Hal ini berlaku juga untuk penamaan alphabet bagi aksara Yunani yang urutan nama lambang-lambangnya dimulai dari alpha  dan beta. Dari nama alpha dan beta itulah nama alphabet.

Khusus untuk aksara Ka-ga-nga Sumatra Selatan, ada nama lain lagi, yakni Surat Ulu. Nama ini sudah menjadi namanya sejak dulu. Jadi, bukan nama baru, bukan pula nama buatan zaman sekarang. Sebutan  Surat Ulu ini sangat menunjukkan kepribadian masyarakat Sumatra Selatan. Penamaan Surat Ulu juga sangat tepat jika dikaitkan dengan berbagai alasan dan latar belakang sejarah dan budaya.

Pertama, nama Surat Ulu sudah dikenal secara meluas sejak ratusan tahun lalu, bahkan mungkin sejak ribuan tahun lalu. Beberapa “batu bergores” atau “batu bersurat” yang ditemukan di tanah Besemah, baik di wilayah Kabupaten Lahat maupun Kota Pagaralam. Prasasti semacam itu antara lain di situs Lahat-tengah, namanya “batu nage”, di dusun Tegurwangi Lama, namanya “batu balay”, diinformasikan pula pernah ada di Pemandian Ayik Dendan, Dusun Gunungmigang, Kecamatan Jaray (Besemah Ulu Lintang); di Situs Baturang, namanya “batu-kitap”; di Air Kundur, Selibar, namanya “batu tambatan jung”; di Air Betung, Matangbange; di dusun Pagardin; dan di dusun Geramat, Mulak Ulu.

Kedua, nama Surat Ulu sekaligus memendekan antara aksara Ka-ga-nga Sumatra Selatan dengan aksara-aksara Ka-ga-nga di luar Sumatra Selatan. Aksara Ka-ga-nga sebagai aksara atau tulisan asli Nusantara, tersebar di berbagai provinsi  di pulau Sumatra dan pulau Sulawesi, dan kepulauan Massava  (Filipina) itu. Sepengetahuan penulis, meliputi tulisan-tulisan asli Aceh, termasuk Gayo dan Alas; Batak: Toba (Tapanuli Utara), Simalungun, Karo, Dairi/Pakpak, Angkola (Tapanuli Selatan), dan Mandailing; Minangkabau, Kampar (Riau); Kerinci, Jambi; Rambutan (Banyuasin); Musi; Rawas; Ugan (Ogan); Komering; Kayuagung; Daya; Aji; Besemah; Inim (Enim); Lembak; Rejang; Seraway (Bengkulu Selatan dan Seluma); Bengkulu; Lampung; Makasar; Bugis; Mandar; dan Tagalog (Filipina Selatan).

Ketiga, nama Surat Ulu sesuai dengan nama atau sebutan bagi seluruh keseluruhan masyarakat Sumatra Selatan di luar kota Palembang, yakni masyarakat Uluan atau wong ulu.
Memang Surat Ulu adalah tulisan yang digunakan oleh masyarakat Uluan atau wong ulu. Masyarakat etnik Palembang (wong palembang) tidak menggunakan Surat Ulu dan tidak memiliki tulisan sendiri, sehingga menggunakan “Surat Melayu”, yaitu huruf Arab yang diberi tambahan beberapa lambang bunyi, seperti /c/ (….), /g/ (….), /ng/ (…), /ny/ (…), Surat Melayu itu dinamakan juga Surat Arab Gundul atau Hurup Arab Gundul atau “Surat Jawi”.

Masyarakat Bahasa Pemilik Surat Ulu
Masyarakat bahasa yang ada di Provinsi Sumatra Selatan adalah masyarakat pengguna bahasa daerah yang ada di Sumatra Selatan. Bahasa-bahasa  daerah yang ada di Provinsi Sumatra Selatan ini adalah bahasa Palembang, bahasa Kubu, bahasa Musi, bahasa Sindang Kelingi, (Saling, Kati, Beliti, Kelingi) dialek bahasa Lembak; bahasa Rawas; bahasa Rejang di Ulu Rawas dan Ulu Lakitan; bahasa Kayuagung;, bahasa Ogan (Ugan); bahasa Pegagan; bahasa Rambang; bahasa Lubay; bahasa Belida; bahasa Penukal-Abab; bahasa Lematang; bahasa Inim (Enim); bahasa Daya; bahasa Aji; bahasa Rawanu; bahasa Besemah; bahasa Lintang; bahasa Penesak; bahasa dialek Lengkayap; bahasa/dialek Benawe; dan bahasa-bahasa Melayu lainnya (Selapan, Pampangan, Pemulutan, Rambutan, Banyuasin).

Dari sekian banyak masyarakat bahasa dan dialek di Sumatera Selatan ini, yang memiliki Surat Ulu, sepengetahuan penulis adalah Rambutan, Banyuasin; Musi; Rawas; Pegagan (Ogan Ilir); Ogan; Komering; Kayuagung, Daya; Aji; Besemah (termasuk Semende, Mekakaw, dan Kisam); Lintang; Enim.

Mengapa Perlu Ditetapkan Nama Surat Ulu
Mengapa aksara Ka-ga-nga Sumatra Selatan perlu ditetapkan namanya menjadi Surat Ulu? Mengapa tidak Surat Ka-ga-nga Sumatra Selatan atau Surat Ka-ga-nga saja?

Pada bagian terdahulu telah dijelaskan bahwa aksara Ka-ga-nga, selain di Sumatera Selatan, terdapat juga di semua provinsi lain di pulau Sumatra, di beberapa pulau Sulawesi serta beberapa pulau dan provinsi di Filipina Selatan. Jadi bukan hanya Sumatra Selatan pemilik atau pendukung aksara Ka-ga-nga atau Surat Ka-ga-nga itu, melainkan seluruh Sumatera dan Sulawesi, dan Filipina. Lagi pula nama atau penyebutan aksara Ka-ga-nga di Sumatra Selatan sejak dulu adalah Surat Ulu, bukan Huruf  Ulu atau Tulisan Ulu.  Malah ada yang menamakannya berdasarkan asalnya surat atau  tulisan itu.  Misalnya, “Surat Besemah”, “Surat Ugan”, Tetapi untuk memantapkan rasa persatuan dan kesatuan Sumatra Selatan, disepakati nama “Surat Ulu” sebagai nama aksara persatuan Sumatera.  Nama “Surat Ulu” sekaligus menunjukkan identitas Sumatra Selatan, membedakannya dengan aksara Ka-ga-nga yang juga dikenal dan digunakan di luar Sumatera Selatan.

Perkiraan Usia Surat Ulu
Sejak kapan mulai munculnya Surat Ulu, belum ada seorang pun yang dapat menunjukkan jawaban.  Karena memang untuk menetapkan batasan waktu yang pasti untuk hal-hal yang sudah sangat lama itu adalah sulit sekali.  Yang dapat kita buat hanyalah perkiraan-perkiraan berdasarkan perbandingan-perbandingan. Dalam menentukan perkiraan usia Surat Ulu dapat dilihat perkiraan usia peninggalan purba berupa Megalit Besemah yang tersebar di wilayah sebar kebudayaan Besemah, yang meliputi Kabupaten Lahat, Kota Pagaralam, sebagian Kabupaten Muaraenim, sebagian Kabupaten OKU, sebagian Kabupaten OKU Selatan, sebagian Kabupaten Bengkulu Selatan, sebagian besar Kabupaten Kaur, dan sebagian Kabupaten Seluma.
Perkiraan usia Megalit Besemah antara 2.500 Sebelum Masehi sampai dengan 500 Sebelum Masehi.  Megalit Besemah yang tertua diperkirakan sudah ada sekitar 2.500 tahun yang lalu, sedangkan yang termuda atau yang terbaru, diperkirakan dibuat pada kira-kira 500 SM sampai 100-an M. Di antara temuan Megalit Besemah itu ada yang berupa “batu-besar” yang bertulis, bergores, dan atau berlukis.  Goresan atau tulisan pada Batu-besar itulah yang diperkirakan merupakan cakal bakal Surat Ulu.

Batu bergores, bertulis, dan atau bertulis itu diperkirakan dibuat pada masa Megalit Besemah meskipun tidak tertutup kemungkinan sudah dibuat pada masa sebelum itu. Jadi, dapat dipastikan bahwa Surat Ulu, setidak-tidaknya cakal-bakal Surat Ulu sudah ada pada abad Masehi. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya temuan megalit-megalit berupa “batu-bersurat” atau “batu-bertulis”, “batu-bergores”, dan atau “batu-berlukis” itu.

Di mana Ditemukan Surat Ulu?
Temuan Megalit Besemah berupa batu bersurat, bertulis, bergores, dan atau berlukis, antara lain di situs-situs (1) Selibar (Batu-tambatan-jung di tepi Air Kundur, (2) Tanjung-ara (batu-kubur yang disebut Ghumah-batu ada tulisan purba di atas bagian pintunya, sudah rusak dimakan usia, (3) Matang-bange (Batu-bersurat di Air Batung, (4) Tegurwangi Lama (Batu-balay), (5) Pagardin (Batu-bertulis), (6) Kutaraya Lama (tulisan mirip angka Romawi pada batu-kubur yang juga disebut Ghumah batu, (7) Baturang (Batu-kitap), (8) Gunungmigang (Batu-bersurat di Air Dendang), (9) Geramat (Batu-batu bersurat,  (10) Batu-lebar (Batu-datar) Tinggiari Lama, Gumay Ulu, (11) Batutinjak-banyak di Sungay-ara, Gumay Ulu, dan (12) Lahat-tengah (Batu-naga).

Perkembangan pemakaian Surat Ulu secara pesat diperkirakan pada kurun waktu antara pertengahan abad ke-13 sampai sampai dengan akhir abad ke-19. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya tinggalan “buku” kuno yang disebut kitap kaghas yang masih banyak disimpan oleh juray-juray tuwe (pemangku adat) di Besemah yang meliputi wilayah-wilayah seperti diuraikan tadi. Kitap kaghas ini ada yang menjadi koleksi Museum Balaputera Dewa. Di dusun Pelajaran ada kitap kaghas peninggalan Puyang Belulus yang diperkirakan berasal dari awal abad ke-18 atau dari kurun waktu kira-kira 300 tahun yang lalu. Seusia dengan kitap kaghas yang ada pada juray-tuwe dusun Pelajaran. Ada kitap kaghas Bendaraja di tangan orang yang bernama Kamil bin Kohar. Kita harapkan para juray-tuwe di Besemah terbuka hati untuk memberi izin penelitian terhadap kitap-kitap kaghas tersebut.

Selain pada batu-batu bersurat, batu bergores, batu belukis, atau prasasti, dan kitap-kitap kaghas, surat ditulis juga pada tanduk kerbau, pada ruas bulu (bambu), pada bilah-bilah buluh (gelumpay), pada bagian dalam dinding rumah sebagai catatan-catatan peringatan, dan pada kertas-kertas dokumen lama.
Menurut Yahmid, seorang tokoh Muhammadiyah dari dusun Nantigiri,menyatakan bahwa sampai tahun 1937 (masa akhir penjajahan Belanda) di Besemah masih banyak digunakan Surat Ulu. Mulai berkurangnya penggunaan Surat Ulu diperkirakan sejalan dengan berkembangnya Surat Ulu atau Surat Arab Gundul pada zaman pertumbuhan dan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara. Kesultanan Palembang Darussalam yang berhasil menyatukan masyarakat-masyarakat etnik di Sumsel (1659-1821) menjadikan Surat Melayu atau Surat Arab Gundul sebagai tulisan resmi, sehingga Surat Ulu hanya digunakan secara lokal oleh masing-masing masyarakat etnik.

Setelah Kesultanan Palembang Darussalam dikuasai Belanda, semakin terpojoklah Surat Ulu, karena pemerintah Belanda menggunakan aksara Latin sebagai tulisan resmi, yang oleh nineng (nenek) kita dikenal sebagai Surat Belanda. Setelah Indonesia merdeka, Indonesia menjadikan juga Surat Belanda (tepatnya aksara Latin modern a-b-c) itu sebagai tulisan resmi, nasional maupun internasional. Dengan demikian, tamatlah riwayat pemakaian Surat Ulu.

Rupa, Bentuk, dan Jenis Surat Ulu
Surat Ulu yang kita warisi sekarang terdiri atas berbagai rupa, bentuk, jenis. Di antaranya ada perbedaan antara Surat Ulu lebih lama atau lebih tua dengan Surat Ulu yang lebih baru atau lebih muda. Dari segi bentuk dan atau cara menuliskannya, dikenalkan ada bentuk
patah-lancip atau runcing (….)
patah siku (….)
lengkung panjang (….)
lengkung pendek (….)
mendatar (….)
tegak (….)
miring (….)


0 Responses to “Aksara Ka-ga-nga di Sumatra Selatan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Archives


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: